Shodaqoh yang paling kekal adalah dimana kita bisa bershodaqoh / memberi / men-share sebagian pengalaman / ilmu kita kepada orang lain.


About Me



Pumz DKI Jakarta, Daerah Jagakarsa Jaksel, Indonesia

contact at YM!

Home
Pumz Blog

Search Last Post


Support by FreeFind

Last Post

[Mungkin] Kita Tak Berbeda Dengan Kambing
Rizki dalam Pernikahan
Pembokat Mudik.. Juragan-pun Jongos
Nasehat Ibu' --Part.1--
Biyu de Action [Step - 3]
Biyu de Action [Step - 2]
Biyu de Action [Step - 1]
Kangen Band - Doy
Welcome "Biyu" My Honey
1 Masa Berlalu, 1 Masa Akan Tiba

Archieve
April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
June 2006
September 2006
October 2006
November 2006
December 2006
January 2007
February 2007
March 2007
April 2007
May 2007
June 2007
August 2007
September 2007
October 2007
February 2008
March 2008
May 2008
June 2008
July 2008
October 2008
November 2008
December 2008

SHoutbox
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Go Blog Mania
Bunda Nina
Biyu aka Beauty
My Family
De Comelz's PaporitZ

Asrama 8 Crew :
Asih Luwe alias Lapar
Dwi VitaMin A
Edi SubandonoKasinoIndro
Ely Subandono
Ika Nur Sila-Pertama
Ike PD Banged C
Irfan Sopo Seh?
Nike Macho
Siska Nur Buat
Viving Dwi As Gentong
Yeni Dwi Tunggal ABRI
Yulia "Mama-Kintan" Riani

Mokleters :
Agus Triyono
Mbak Nur Sa'adah
Mat Per Sufism
Maz Irwan
Paila X-Generation
Sistanori (Mas Sis vs Angga)
Yanerlie Le Tole

Office Partner :
Bang Dharma | BC Sukarno Hatta
Pak Chandra | BC Sukarno Hatta
Pak Ochep | BC Sukarno Hatta
Wahyuddin | BC Sukarno Hatta


Blog Friend :
gitablu goiq
Jammie
mariskova
oink tralala
sudoku Indonesia
vi3
wasugi
Yaya
Zilko

ATOM 0.3
Tamu Yang On Line
Tamu Pernah Mampir


Utility end Banner :
Blog Awards Indonesia  2006

Web Terbaik Indonesia 2006

Free Shoutbox Technology Pioneer

Photobucket


 

 

 

 

[Mungkin] Kita Tak Berbeda Dengan Kambing
Published Tuesday, December 16, 2008 by Pumz. 0 comments


Mungkin postingan ini sedikit terlambat karena tidak berdekatan pada saat Idul Adha kemarin.Tetapi bolehlah sedikit kita berkaca dari pengalaman Idul Adha yang dirayakan setiap tahunnya.

Usai sholat Idul Adha, hewan-hewan kurban siap menanti ajal. Suka atau tidak, mereka sudah berada dalam antrian untuk disembelih sesuai nomor urut yang tertera di tubuh masing-masing atau dikalungkan di leher. Nomor urut satu, maka ialah yang berhadapan langsung dengan malaikat maut melalui seorang tukang jagal. Berikutnya, nomor dua, tiga, dan seterusnya.

Kemudian satu persatu kambing menemui ajal, meregang nyawa, mengembik kesakitan. Tak satupun terlihat siap untuk mati, mungkin tak cukup bekal yang mereka bawa. Boleh jadi mereka tak menduga kematian secepat itu menjemputnya, namun ketika sudah tiba waktunya tak satupun bisa menolak. Apapun kondisinya, harus terima resiko berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa dalam keadaan serba kekurangan. Kurang amal, kurang ibadah, kurang taat, kurang segalanya.

Nah, disinilah kesamaan kita dengan hewan-hewan kurban itu. Sesungguhnya kita pun tengah berada dalam antrian menunggu ajal. Siap tidak siap, suka tidak suka, pada waktunya kita akan bertemu dengan Izrail sang pemutus kenikmatan dunia. Sama dengan hewan-hewan kurban yang tak menyadari kapan kematian akan tiba, kita pun tak pernah sadar bahwa masa itu sudah dekat, bahkan sangat dekat. Kita tertipu dengan kemewahan dunia, gemerlap kebahagiaan yang menyertai kehidupan yang dijalani sehingga menganggap kehidupan ini akan abadi. Sampai tiba-tiba Izrail sudah berdiri tepat di hadapan, barulah kita sadar, bahwa kematian memang selalu datang lebih cepat dari yang kita sangka.

Sama juga dengan kambing dan sapi itu, saat malaikat menjemput ruh ini untuk berhadapan dengan Allah, untuk memertanggungjawabkan segala amanah selama di dunia, kita benar-benar tak siap dan merasa memiliki banyak kekurangan. Kurang amal shaleh, kurang sedekah, kurang zakat, kurang ibadah, kurang taat, kurang takwa, kurang peduli, kurang segalanya.

Padahal sebelumnya kita sempat mengira bekal yang disiapkan sudah cukup. Ternyata tidak, sama sekali tidak cukup. Sebab kita lupa, bahwa perjalanan akhirat jauh lebih panjang, lebih lama dari kehidupan dunia yang sangat singkat. Ibarat perjalanan jauh, maka kehidupan dunia ini hanyalah sebuah persinggahan sesaat. Kita benar-benar lupa, dan mengira kehidupan dunia akan kekal. Padahal keabadian itu ada di kehidupan selanjutnya, bukan di dunia.

Meski tak seperti kambing dan sapi yang dilabeli nomor urut kematian, tetapi yakinlah, sesungguhnya kita pun sudah diberi nomor antrian itu. Hanya saja kita tak benar-benar tahu berada di antrian berapa kita, apakah masih jauh atau justru sangat dekat. Hal inilah yang membuat kita terus terlena dan menyangka giliran kita masih jauh. Boleh jadi, besok atau malam inilah waktunya.

Dan bila benar-benar waktu itu tiba, terbelalak lah mata ini karena tak mengira secepat itu Izrail tiba. Maka tak sedikit dari kita yang meregang nyawa dengan berteriak kesakitan, perih yang tiada pernah dirasakan oleh manusia manapun semasa hidup. Lebih perih lagi saat membayangkan ganjaran apa yang bakal kita terima di akhirat kelak, sesuai dengan apa-apa yang pernah kita kerjakan di dunia.

Kalau seekor kambing mengembik kesakitan saat meregang nyawa, maka kita pun berteriak, mata terbelalak, lidah terjulur menahan sakitnya melepas ruh. Yakinlah, masih ada yang lebih perih yang bakal kita terima di hadapan Allah sesudah sakit meregang nyawa. Itu semua tergantung apa-apa yang kita perbuat selama di dunia. Maka tersenyumlah wahai jiwa yang semasa hidupnya dipenuhi amal shaleh, dihiasi ketaatan serta menjadikan dirinya matahari bagi kehidupan orang lain. Astaghfirullaah… (gaw)


taken from : warnaislam.com



::.. Cah Cuby ..::
http://ayah.keluargamurdani.com

Labels: ,


baca selengkapnya..

 

Rizki dalam Pernikahan
Published Sunday, November 09, 2008 by Pumz. 0 comments


Kalo liat foto pas lagi bertiga ini yang diambil pas gathering kantor di Mekarsari beberapa waktu yang lalu jadi inget sebuah artikel (entah siapa yg bikin dan dapat dari mana). Yang jelas disitu intinya tertulis "Kalo rejeki dalam sebuah pernikahan akan datang sendirinya".

Dulu aku termasuk orang yang kontra dengan artikel tersebut ( meskipun sampai sekarang juga tidak terlalu PRO).Yah memang benar rejeki akan datang sendirinya, tetapi dua hal yang tidak boleh dilupakan yaitu usaha dan do'a. Makanya kadang kalo pas merenung pada kondisi saat ini jadi inget dulu pas mau memutuskan merit. Maju mundur.. iya... engga.. merit... engga. Semua pikiran jadi satu. Sampai akhirnya aku mendapat sebuah contoh kehidupan yang dari dulu ga aku sadari.Bokap yang seorang PNS dengan sisa pendapatan yang boleh dikatakan kurang, bisa menghidupi ke-4 adik-adikku dan Mama. Padahal 2 dari ke-4 adikku menginjakkan kaki di bangku kuliah'an.

Meski tiap bulan aku membantu meringankan beban bokap, tapi menurutku bokap masih-lah penyokong utama dana sekolah dan kuliah adik-adikku. Saat aku tanya ke bokap darimana bisa hidup selama ini dengan gaji yang segitu dan beban biaya hidup yang jauh lebih besar. Bokap cuman jawab "Yo enek wae Le rejeki iku. Ga iro Gusti Allah maringi urip trus njarne mati kaliren. Sing ojok lali usaha lan do'a ne. Ben lancar kabehane" [artinya kurang lebih seperti ini : "Ya ada ajalah Nak rejeki itu. Tidak mungkin Allah SWT memberikan kehidupan trus membiarkan qt mati kelaparan. Yang jelas jangan lupa berusaha dan berdoa supaya lancar semuanya"] .

Saat itu aku masih setengah percaya dan setengah ngga. Bukannya tidak percaya akan kenikmatan yang Allah SWT berikan. Tetapi ketidak percayaan pada diri sendiri, apakah aku mampu menghidupi anak istri kelak. Maklum dengan usia masih belum genap 25, kuliah masih kurang beberapa SKS dan status kerja yang masih kontrak outsource. Sungguh ibarat judi dalam kehidupan. Tetapi dengan niatan mencari barokah kehidupan, syukur alhamdulillah sejauh ini apa yang aku jalani dan yang yang aku dapat jauh dari kurang alias cukup (Alhamdulillah). Mulai dari pekerjaan yang mulai menampakkan titik terang (sudah tidak outsource lg), tempat tinggal yang perlahan tapi pasti dapat ugrade perlahan-lahan (punya rumah sendiri meskipun tidak besar), dan tentunya si kecil yang hari demi hari bertambah pinter dan bisa menjadi mainan bernyawa.

So... buat yang lagi bimbang pengen memutuskan merit atau tetap membujang, mungkin sedikit cerita diatas bisa jadi pertimbangan. Yang jelas intinya selama kita berusaha dan berdo'a rizki akan datang sendirinya tanpa kita sadari. Semoga.. Amien



::.. Cah Cuby ..::
http://ayah.keluargamurdani.com

Labels:


baca selengkapnya..

 

Pembokat Mudik.. Juragan-pun Jongos
Published Monday, October 13, 2008 by Pumz. 2 comments


Lebaran maren ga kemana-mana alias ga ada acara mudik. Bangun tidur nyuci popok, jemur popok, gendong Biyu, guyon ma Biyu, dll. Acara sebagian besar dihabiskan di dalam kontrak'an. Maklum pembokat lagi minta cuti mudik selama 10 harian. Jadi mao ga mao kudu cuti dari kantor 10 hari juga buat gantiin pembokat (tapi minus masak, soalnya takut yg punya dapur perasaan.. hihihihi).

Hari pertama cuti kaget bukan maen. Karna Biyu batuk-batuk kayak wong tuwek terus muntah-muntah. Tercatat sehari sampek muntah 4 kali. Klo ga salah pas itu hari Minggu ato H-3 sebelum lebaran. Sempet telp Ayah ma Mama di Jember buat minta saran kalo bayi muntah-muntah, secara adikq yang kecil baru 4 thn. Jadi Ayah / mama pasti masih ingat trik jika bayi muntah. Dan benar saja trik Ayah ma mama cukup jitu. Beliau berkata demikian di telepon...."Le yen bayi muntah-muntah gowoen ke dokter" (kurang lebih seperti ini artinya "Nak kalo bayi muntah-muntah bawa aja ke dokter"). Mendengar saran itu tentu saja diri ini jadi menggerutu sopan (maklum sama ortu). Dimana -mana emang kalo sakit harus ke dokter. Serasa jadi orang tolol sesaat waktu itu. Jadi percum tak bergun telp ke kampung.

Keesokan harinya ato di hari ke dua cuti, kita sekeluarga langsung bergegas ke dokter anak. Di RS bu dokter sedikit menjelaskan jika batuk disertai muntah-muntah pada anak balita itu wajar dan gpp. Karena itu biasanya usaha si kecil untuk mengeluarkan dahak di tenggorok'an. Kemudian bu dokter juga memberikan obat batuk bayi yang hanya dan hanya jika diberikan apabila si kecil batuk. Akhirnya hari itu kita pulang ke rumah dengan perasaan plong.

Sesampai di rumah ternyata ada sedikit masalah. Karena bekas mpup Biyu yang maren belum di jamah sama sekali. Karuan saja sebagai ortu gw bingung. Karena terus terang gw dan istri adalah type orang yang ga tega'an melihat dirty. Setelah bersi tegang dengan istri siapa yang mengeksekusi bekas-bekas mpup akhirnya sebagai orang yang paling dewasa dan berwibawa dalam rumah tangga, gw mengalah guna bersih-bersih bekas mpup Biyu. Pertama pegang kenyal,bau' (ternyata punya bayi juga bau. hihihi.. huekss) dan tentu saja lengket di mana-mana maklum dirty-nya uda 24 jam ga di jamah.

Satu menit,dua menit akhirnya ga terasa ber menit-menit bergelut ama yang lengket-lengket tadi. Dan akhirnya selesai juga tugas membersihkan bekas mpup si Biyu. Sejenak sempat ngaca di spion motor (maklum tempat jemur pakaian dekat motor) kalau raut muka gw merah maruun menahan gelisah sedari tadi. Dan untung selama proses tadi gw tidak latah ( alias ikutan ber-dirty ria. Hehehehehe)

Hari ketiga,ke-empat, ke lima sampai ke sepuluh cuti nyaris tidak ada special incident. Semua berjalan lancar dan alhamdulillah tanpa halangan yang sangat berarti.

Sedikit saran buat para ortu-ortu yang baru punya momongan. Dalam menghadapi si kecil biasakan SIAGA. Mending melakukan preventive terhadap penyakit daripada melihat si kecil sakit. Terlebih lagi di hari-hari yang sekiranya dokter anak libur / ndak praktek. (biar ndak tambah bingung... hihihihi)



::.. Cah Cuby ..::
http://ayah.keluargamurdani.com

Labels: , , ,


baca selengkapnya..

 

Nasehat Ibu' --Part.1--
Published Wednesday, July 30, 2008 by Pumz. 0 comments


Malam ini pas lagi jaga shift iseng2 cari2 dokumen / peninggalan cerita2 Almrh my Mom sepanjang hidup beliau. Salah satu yang membuat aku tertarik mengenai sekumpulan "Nasehat2 Beliau". Entah kapan tepatnya nasehat itu terucap yang jelas ada beberapa nasehat yang mungkin jika dikonversi (ceileee konversi kayak kompor aja) pada masa saat ini sepertinya pas banged... nged... nged....

* Jangan Pernah Berkata Najis Tralala
Tema ini adalah salah satu nasehat Ibu' yang selalu aku ingat hampir setiap saat (diingat doang tp banyak ga dipraktek'in. Hihihihi). Yah ini mengenai ucapan kita atau tata krama ucapan atau bahasa familiar-nya sopan santun bertutur kata kepada orang lain.

Kadang kita khilaf tanpa rasa bersalah memanggil orang lain dengan sebuah istilah/sebutan yang mungkin jika diartikan artinya abstrak atau justru sangat tidak enak di dengar. Sbagai contoh kita memanggil seseorang dengan sebutan "Hey moncrot" atau "Hey telek petek" atau mungkin "Hey petek nelek", dll. Mungkin bagi penemu julukan memanggil orang lain seperti itu no problem (ya iyalah... masa ya ya ya). Tapi bagaimana perasaan orang yang kita panggil (EGP. heheheh j/k).

Selain itu tata krama berucap khususon kaum hawa sangatlah lekat dan terlihat sekali penilaiannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh cewek seksi nan ayu memanggil orang lain seperti "Hey Cuk" atau "Hey Gathel" sangat tidak relevan. Belum lagi jika ada wanita berjilbab yang tampak anggun nan GEMULAI (GEndut MUUooolek dan lungLAI) yang berkata2 kasar / umpatan kepada orang lain. Seperti "Dasar Bego" , "Dasar Guooblok","Dasar Kemprus" dan dasar2 lainnya. Sungguh sesuatu yang sangat tidak pantes diucapkan kaum hawa khususnya bagi mereka2 yang terlihat anggun dan terpelajar tetapi masih berpikiran pasaran.

Jadi ingat saat SMK dulu, suatu hari saat aku pulang kampung dari Malang ke Jember satu baris tempat duduknya dengan seorang embuk2 (bhs Indonesianya "Ibu2") yang sekilas tampak seperti orang berada dan berwawasan intelektual. Begitu giliran hp-nya berbunyi mulailah terlihat jatidiri ibu2 tadi. Mulai dari nada bicaranya yang kenceng (sekenceng saat aku ngeden karna bedegelen [bedegelen is can't plung² in the morning at 2ilet] ) sampe marah² kepada lawan bicaranya di telp sampai tidak henti-hentinya berkata-kata yang kasar dan umpatan² ala kadarnya yang dilontarkan. 

Bagaimanapun tutur kata memang menjadi penilaian atau cerminan diri kita sendiri. Semakin tutur kata kita bagus semakin baguslah penilaian orang kepada kita. Dan semakin norak tutur kata kita semakin noraklah anggapan orang lain kepada kita (ahhh norak lu..).


* Wanita Haruslah Perkasa Pada Tempatnya
Nasehat ini sebetulnya hanya cuplikan wejangan Almrh Ibu' kepada adikku (kebetulan adikku cewek). Kalo ga salah my Mom pernah berkata kepada adik seperti ini "Jika besar jadilah orang yang pandai,mandiri dan sangat kuat dalam menghadapi hidup. Tetapi sepandai-pandainya, semandiri-mandiri dan sekuat-kuatnya menghadapi hidup tetaplah ingat yang namanya kodrat, unggah-ungguh dan agama".

Nasehat tersebut sebetulnya bukan tanpa alesan dan bukan tanpa contoh yang di ucapkan ibu kepada adik. Sebagai bukti ayah yang notaben-nya jauh lebih rendah dari sisi pendidikan, pendapatan bahkan relasi kerja sangatlah enjoy berumah tangga dengan almrh ibu'. Nyaris sepanjang 18 tahun kami hidup bersama tidak pernah ada bersitegang dalam rumah tangga. Dan jika aku bisa tarik kesimpulan itu semua berkat Ibu' yang selalu pandai menempatkan sisi KEPERKASAANNYA sesuai tempatnya. 

Dan nasehat ini ternyata bisa aku temukan lagi kebenarannya saat aku duduk di bangku SMK di Malang. Sebuah keluarga kecil dengan 2 orang putri dimana sang suami hanyalah penyiar radio swasta di Malang yang hanya lulusan SMU tetapi dapat hidup rukun dengan keluarganya dan serba berkecukupan. Padahal jika aku boleh nilai kehidupan keluarga ini bisa dibilang kalangan menengah (boleh dikatakan cukup). 

Sampai suatu hari sang istri menyuruh aku untuk ambilkan duit di ATMnya karena si suami sedang sakit dan butuh duit untuk berobat. Sesampai di ATM aku jadi kaget kenapa keluarga yang sesederhana ini bisa mempunyai tabungan nyaris ratusan juta (bukannya pengen ikut campur urusan rumah tangga orang lho.. Tp please deh positif thinking dulu ye..).

Setelah beberapa hari berselang setelah kejadian itu si istri bercerita bahwa isi ATM itu adalah tabungannya.Dan mewanti-wanti aku untuk jangan sekali-kali membocorkan jumlahnya, terutama kepada bapak (si suami RED). Karena itu akan membuat dia minder, dan menganggap dirinya menjadi seorang laki² yang tidak berarti bagi keluarga.

Hmmm sungguh seorang istri yang pintar,cerdas tetapi tidak melupakan kodrat, unggah-ungguh dan agama.



(sampai sini bingung mo nulis apalagi.. maklum mata tinggal 4 watt jadi ceritanya sampai sini aja ye... Uda jam 4 pagi, mo tidur malam dulu. Tar² di sambung lagi. Maaf bagi yang uda bela-belain baca dan terbawa ama tulisan ini. Endingnya ndak enak banget yak? Hihihihihi. Thx atas pengertiannya)


::.. Cah Cuby ..::
http://ayah.keluargamurdani.com

Labels: , ,


baca selengkapnya..

 

Pengisi Masa Jeda
Published Sunday, February 10, 2008 by Pumz. 0 comments


Wah ternyata uda lama ndak nge-blog. Yah bukan karna males sih, tapi emang lagi ga semped aja. Maklum mo jadi bapak, jadi kudu kasih perhatian extra ama si calon jabang bayi. Dan ga terasa sudah mau masuk usia 8 bulan kandungan si kecil.Pertanda kalo beberapa bulan ke depan kudu semakin semangat mempersiapkan jati diri. Tar bisa-bisa ada yg protes "Masa jadi bapak masih longor" atau "Dasar bapak yang tidak dewasa". Hihihihi... Emang risih sih kalo ada yang mengumpat kayak begitu, tapi ya uda dianggap angin lalu aja. Bukannya manusia memiliki 2 telinga, yang satu di gunakan untuk mendengarkan dan satunya lagi membuang hasil perkataan jika ada yang kurang sreg ama ati. ^_*

Oh iya aku ada sedikit share about "Pernikahan dan Rumah Tangga". Dulu, jauh sebelum merencanakan untuk menikah aku paling anti pati ama yang namanya artikel pernikahan. Yang katanya dalam pernikahan itu ada keajaiban kek, ato ada keberuntungan kek, ato apalah. Maklum rata-rata artikel pernikahan yg pernah kubaca selalu menghadirkan sisi positif dalam pernikahan. Dan jarang sekali ulasan-ulasan negatif dari artikel pernikahan tersebut. Setelah waktu berjalan hampir satu tahun aku menjalani pernikahan syukur alhamdulillah ternyata artikel-artikel tersebut emang benar (tapi kudu obyektiflah dalam mengartikan...). Mulai dari hal-hal yang bagiku mustahil bin mustahal untuk terjadi sampe hal - hal yang jauh dari khayalan ternyata dapat terjadi dalam sebuah pernikahan.Dan ajaibnya dapat terjadi dalam waktu yang menurutku sangat singkat.

Benar kali ya kalo niatan pernikahan itu minimal kudu tulus,ikhlas dan ikhtiar buat mencapai sebuah keajaiban dalam rumah tangga. So buat my prente-prente yang mo merit semoga menjadi keluarga SAMARA dan mendapat generasi penerus yang selalu berguna bagi Agama dan Bangsa. Amien...


::.. Cah Cuby ..::
http://ayah.keluargamurdani.com

Labels: ,


baca selengkapnya..

 

Napseng Amarah Murka
Published Tuesday, September 25, 2007 by Pumz. 0 comments


Bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu di tunggu - tunggu oleh pemeluk agama Islam di seluruh dunia. Selain sebagai ajang berlomba - lomba mencari pahala dan ridho Allah SWT, bulan Ramadhan menurutku juga sebagai ajang introspeksi diri. Apakah sebagai manusia sudah melakukan kewajiban bersyukur atas semua rahmat yang di berikan Allah SWT.

Salah satu kewajiban di bulan Ramadhan ini, kita sebagai umat islam di wajibkan menjaga hawa - hawa yang berbau napseng [napsu]. Dari napseng makan dan minum, napseng batiniah, napseng amarah sampai napseng - napseng yang negatif. Dan di berbagai macam pengajian dan siraman rohani yang banyak aku tonton dan ikuti.Dari acara tv sampai khutbah di masjid jarang sekali mengupas secara detail mengenai napseng amarah [istilah kerennya purik'an/suka marah-marah]. Padahal menurutku napseng amarah adalah napseng nomer 1 yang paling sulit di kendalikan bahkan paling sulid dihindari. Contoh paling enteng aja, jika ada orang di samping kita yang dengan wajah bagusnya mengeluarkan gas buang [kentut maksudku REK] dengan daya bau kelas wahid dan radius cakupan yang cukup jauh. Pasti napseng amarah kita rasanya uda di ubun - ubun seperi mau moncrotz. Minimal umpatan keren seperti " Oooo dobolz .... " ato "Woee... ancene mencret. Prat pret ae... Asyemmm " atau mungkin umpatan dalam bahasa indonesia "Ih jorok... Dasar pantat kuda NiL. Ga tau sopan sopyan buriknya[burik = bokong = pantat]" akan mudah terlontar dari mulut kita. Entah itu baik atau buruk, halal atau haram yang jelas umpatan - umpatan seperti itu pastilah terlontar dengan emosi. Dan sungguh konyol kalo umpatan - umpatan tadi disampaikan kepada si pencipta kentut tadi dengan senyuman atau rasa bangga karena sudah di kentuti.

Oleh karena itu sebagai manusia normal yang memiliki napseng amarah. Sangat dilematis sekali dalam mengarungi bulan puasa ini. Di satu sisi ingin menjadikan puasa kita perfect, tapi di sisi lain napseng amarah sesekali sulit banged di kendalikan.Apalagi jika kita termasuk orang yang gampang sekali tersinggung dan naik pitam. Bisa - bisa perlu belasan atau puluhan bulan puasa di tahun - tahun ke depan untuk belajar menjaga napseng amarah guna mendukung puasa kita.Jadi pandai - pandailah mengakali napseng amarah di bulan puasa ini. Meski cara itu hanya bisa untuk sesaat, tetapi setidaknya kita sudah berusaha mensukseskan puasa Ramadhan kita.

Banyak tips dan trik untuk mengakali napseng amarah. Dari cara yang paling mudah sampai cara yang bisa bikin badan kesakitan :
* Trik Pertama
Usahakan dalam berbagai kesempatan selalu membawa cermin[kecil aja,pokoknya cukup menampilkan wajah anda]. Karena berdasarkan pengalaman penulis, kaca adalah barang yang paling efektif untuk mengusir kejenuhan ato ke bete'an apalagi mengusir napseng amarah. Semisal kita hendak marah usahakan wajah kita selalu tampil di cermin yang kita bawa. Ato kalo anda memiliki kebiasaan mengumpat jika marah, usahakan saat anda mengumpat sambil bercermin. Insya Allah kalo memang anda masih waras dan memiliki urat malu yang cukup responsif napseng amarah tadi akan berubah menjadi sebuah senyuman manis. Yah setidaknya muka "Bokpong" anda akan bisa terlihat... hehehehe.

* Trik Lainnya
Jika cara di atas tidak mampu mengusir / mengendalikan napseng amarah. Siapkan cermin yang berukuran lebih besar, yah kalo bisa seukuran setengah badan anda.Pokoknya wajah dan badan anda bisa terlihat di cermin. Kemudian saat anda marah - marah pukul-lah atau cubit - cubit wajah/lengan/badan anda. Semakin anda merasa kesakitan semakin bagus. Ingat lakukan cara itu sambil berpose di depan cermin. Insya Allah napseng amarah bisa berkurang.

Jika dengan 2 cara tadi anda masih tidak bisa menjaga napseng amarah anda, ambillah air wudlu dan lakukan sholat.Atau kalo pengen yang aga mudah,jalankan ibadah yang paling mudah dan efisien.Yaitu tidur alias ndekok [ndekok = tidur berjam-jam].Meski itu sulit, paksa supaya bisa tidur. Pokoknya jangan sampai karena marah anda jadi pengen makan melulu... Karna ini tadi ceritanya solusi menahan "Napseng Amarah Murka" di bulan puasa [ siang hari utamanya ].

Selamat berpuasa ....



Intermezo :
Buat pembaca setia my blog. Tau engga kenapa anak kecil biasanya kalo ada bau busuk [ yah semisal bau kentut gitu ] selalu menutup mulut bukannya menutup hidung ?
Karena anak kecil berpikir dia tidak ingin menelan kentut, cukup menghisap saja. Sekarang sebagai manusia dewasa apa alasan anda menutup hidung jika ada bau busuk ? Dan tidak menutup mulut?
Atau mungkin menutup mulut ama hidung ? [ ga napas donk... :) ]




::.. Cah Cuby ..::
http://ayah.keluargamurdani.com

Labels: ,


baca selengkapnya..