Mungkin postingan ini sedikit terlambat karena tidak berdekatan pada saat Idul Adha kemarin.Tetapi bolehlah sedikit kita berkaca dari pengalaman Idul Adha yang dirayakan setiap tahunnya.
Usai sholat Idul Adha, hewan-hewan kurban siap menanti ajal. Suka atau tidak, mereka sudah berada dalam antrian untuk disembelih sesuai nomor urut yang tertera di tubuh masing-masing atau dikalungkan di leher. Nomor urut satu, maka ialah yang berhadapan langsung dengan malaikat maut melalui seorang tukang jagal. Berikutnya, nomor dua, tiga, dan seterusnya.
Kemudian satu persatu kambing menemui ajal, meregang nyawa, mengembik kesakitan. Tak satupun terlihat siap untuk mati, mungkin tak cukup bekal yang mereka bawa. Boleh jadi mereka tak menduga kematian secepat itu menjemputnya, namun ketika sudah tiba waktunya tak satupun bisa menolak. Apapun kondisinya, harus terima resiko berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa dalam keadaan serba kekurangan. Kurang amal, kurang ibadah, kurang taat, kurang segalanya.
Nah, disinilah kesamaan kita dengan hewan-hewan kurban itu. Sesungguhnya kita pun tengah berada dalam antrian menunggu ajal. Siap tidak siap, suka tidak suka, pada waktunya kita akan bertemu dengan Izrail sang pemutus kenikmatan dunia. Sama dengan hewan-hewan kurban yang tak menyadari kapan kematian akan tiba, kita pun tak pernah sadar bahwa masa itu sudah dekat, bahkan sangat dekat. Kita tertipu dengan kemewahan dunia, gemerlap kebahagiaan yang menyertai kehidupan yang dijalani sehingga menganggap kehidupan ini akan abadi. Sampai tiba-tiba Izrail sudah berdiri tepat di hadapan, barulah kita sadar, bahwa kematian memang selalu datang lebih cepat dari yang kita sangka.
Sama juga dengan kambing dan sapi itu, saat malaikat menjemput ruh ini untuk berhadapan dengan Allah, untuk memertanggungjawabkan segala amanah selama di dunia, kita benar-benar tak siap dan merasa memiliki banyak kekurangan. Kurang amal shaleh, kurang sedekah, kurang zakat, kurang ibadah, kurang taat, kurang takwa, kurang peduli, kurang segalanya.
Padahal sebelumnya kita sempat mengira bekal yang disiapkan sudah cukup. Ternyata tidak, sama sekali tidak cukup. Sebab kita lupa, bahwa perjalanan akhirat jauh lebih panjang, lebih lama dari kehidupan dunia yang sangat singkat. Ibarat perjalanan jauh, maka kehidupan dunia ini hanyalah sebuah persinggahan sesaat. Kita benar-benar lupa, dan mengira kehidupan dunia akan kekal. Padahal keabadian itu ada di kehidupan selanjutnya, bukan di dunia.
Meski tak seperti kambing dan sapi yang dilabeli nomor urut kematian, tetapi yakinlah, sesungguhnya kita pun sudah diberi nomor antrian itu. Hanya saja kita tak benar-benar tahu berada di antrian berapa kita, apakah masih jauh atau justru sangat dekat. Hal inilah yang membuat kita terus terlena dan menyangka giliran kita masih jauh. Boleh jadi, besok atau malam inilah waktunya.
Dan bila benar-benar waktu itu tiba, terbelalak lah mata ini karena tak mengira secepat itu Izrail tiba. Maka tak sedikit dari kita yang meregang nyawa dengan berteriak kesakitan, perih yang tiada pernah dirasakan oleh manusia manapun semasa hidup. Lebih perih lagi saat membayangkan ganjaran apa yang bakal kita terima di akhirat kelak, sesuai dengan apa-apa yang pernah kita kerjakan di dunia.
Kalau seekor kambing mengembik kesakitan saat meregang nyawa, maka kita pun berteriak, mata terbelalak, lidah terjulur menahan sakitnya melepas ruh. Yakinlah, masih ada yang lebih perih yang bakal kita terima di hadapan Allah sesudah sakit meregang nyawa. Itu semua tergantung apa-apa yang kita perbuat selama di dunia. Maka tersenyumlah wahai jiwa yang semasa hidupnya dipenuhi amal shaleh, dihiasi ketaatan serta menjadikan dirinya matahari bagi kehidupan orang lain. Astaghfirullaah… (gaw)
taken from : warnaislam.com
::.. Cah Cuby ..::
http://ayah.keluargamurdani.com
Labels: Comix, Wejangan
baca selengkapnya..