
Kalo liat foto pas lagi bertiga ini yang diambil pas gathering kantor di Mekarsari beberapa waktu yang lalu jadi inget sebuah artikel (entah siapa yg bikin dan dapat dari mana). Yang jelas disitu intinya tertulis "
Kalo rejeki dalam sebuah pernikahan akan datang sendirinya".
Dulu aku termasuk orang yang kontra dengan artikel tersebut ( meskipun sampai sekarang juga tidak terlalu PRO).Yah memang benar rejeki akan datang sendirinya, tetapi dua hal yang tidak boleh dilupakan yaitu usaha dan do'a. Makanya kadang kalo pas merenung pada kondisi saat ini jadi inget dulu pas mau memutuskan merit.
Maju mundur.. iya... engga.. merit... engga. Semua pikiran jadi satu. Sampai akhirnya aku mendapat sebuah contoh kehidupan yang dari dulu ga aku sadari.Bokap yang seorang PNS dengan sisa pendapatan yang boleh dikatakan kurang, bisa menghidupi ke-4 adik-adikku dan Mama. Padahal 2 dari ke-4 adikku menginjakkan kaki di bangku kuliah'an.
Meski tiap bulan aku membantu meringankan beban bokap, tapi menurutku bokap masih-lah penyokong utama dana sekolah dan kuliah adik-adikku. Saat aku tanya ke bokap darimana bisa hidup selama ini dengan gaji yang segitu dan beban biaya hidup yang jauh lebih besar. Bokap cuman jawab "Yo enek wae Le rejeki iku. Ga iro Gusti Allah maringi urip trus njarne mati kaliren. Sing ojok lali usaha lan do'a ne. Ben lancar kabehane" [artinya kurang lebih seperti ini : "Ya ada ajalah Nak rejeki itu. Tidak mungkin Allah SWT memberikan kehidupan trus membiarkan qt mati kelaparan. Yang jelas jangan lupa berusaha dan berdoa supaya lancar semuanya"] .
Saat itu aku masih setengah percaya dan setengah ngga. Bukannya tidak percaya akan kenikmatan yang Allah SWT berikan. Tetapi ketidak percayaan pada diri sendiri, apakah aku mampu menghidupi anak istri kelak. Maklum dengan usia masih belum genap 25, kuliah masih kurang beberapa SKS dan status kerja yang masih kontrak outsource. Sungguh ibarat judi dalam kehidupan. Tetapi dengan niatan mencari barokah kehidupan, syukur alhamdulillah sejauh ini apa yang aku jalani dan yang yang aku dapat jauh dari kurang alias cukup (Alhamdulillah). Mulai dari pekerjaan yang mulai menampakkan titik terang (sudah tidak outsource lg), tempat tinggal yang perlahan tapi pasti dapat ugrade perlahan-lahan (punya rumah sendiri meskipun tidak besar), dan tentunya si kecil yang hari demi hari bertambah pinter dan bisa menjadi mainan bernyawa.
So... buat yang lagi bimbang pengen memutuskan merit atau tetap membujang, mungkin sedikit cerita diatas bisa jadi pertimbangan. Yang jelas intinya selama kita berusaha dan berdo'a rizki akan datang sendirinya tanpa kita sadari. Semoga.. Amien
::.. Cah Cuby ..::
http://ayah.keluargamurdani.com
Labels: Wejangan
baca selengkapnya..