My HTR ver. March 2009
Published
Friday, March 13, 2009
by Pumz. 3
comments
Syukur alhamdulillah setelah hampir 2 minggu sibuk mendandani my HTR (honda Tiger Revo) akhirnya bisa dibilang selesai juga (untuk sementara waktu... hehehe). Jika dilihat-lihat lumayan puas lah kalo pas lagi bete bisa melihat-lihat nih motor. Cuman sayang pas posting ini stangnya belum di upload (pic ketinggalan di kamera... menyusul aja ye)
Berikut detail perubahannya sampai bulan ini : 1. Box e 45 + Braket (Sep 2008) 2. Velg Sprint palang 3 (Feb 2009) 3. Batlax depan : 100/80/70 dan belakang : 130/70/17 (Feb 2009) 4. Disc Cakram PSM (Feb 2009) 5. Stang suzuki TS (March 2009)
Next i'm need.... 1. Klakson Hella 2. Shock YSS 3. HandGuard 4. Windshield GIVI(bener ga tulisannya gini ya) 5. E21 plus braket aslinya GIVI yang 1 set ma sein belakang 6. Radio/HT+ Antenanya plus join RAKOM 7. ???..... (belum kepikir... mono shock kali ye)
Ga ada target sich, cuman sambil iseng kalo dpt harga teman dan ada rejeki ya di rubah dikit-dikit.. Smoga terkabul. Amien.. amien...
[Mungkin] Kita Tak Berbeda Dengan Kambing
Published
Tuesday, December 16, 2008
by Pumz. 0
comments
Mungkin postingan ini sedikit terlambat karena tidak berdekatan pada saat Idul Adha kemarin.Tetapi bolehlah sedikit kita berkaca dari pengalaman Idul Adha yang dirayakan setiap tahunnya.
Usai sholat Idul Adha, hewan-hewan kurban siap menanti ajal. Suka atau tidak, mereka sudah berada dalam antrian untuk disembelih sesuai nomor urut yang tertera di tubuh masing-masing atau dikalungkan di leher. Nomor urut satu, maka ialah yang berhadapan langsung dengan malaikat maut melalui seorang tukang jagal. Berikutnya, nomor dua, tiga, dan seterusnya.
Kemudian satu persatu kambing menemui ajal, meregang nyawa, mengembik kesakitan. Tak satupun terlihat siap untuk mati, mungkin tak cukup bekal yang mereka bawa. Boleh jadi mereka tak menduga kematian secepat itu menjemputnya, namun ketika sudah tiba waktunya tak satupun bisa menolak. Apapun kondisinya, harus terima resiko berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa dalam keadaan serba kekurangan. Kurang amal, kurang ibadah, kurang taat, kurang segalanya.
Nah, disinilah kesamaan kita dengan hewan-hewan kurban itu. Sesungguhnya kita pun tengah berada dalam antrian menunggu ajal. Siap tidak siap, suka tidak suka, pada waktunya kita akan bertemu dengan Izrail sang pemutus kenikmatan dunia. Sama dengan hewan-hewan kurban yang tak menyadari kapan kematian akan tiba, kita pun tak pernah sadar bahwa masa itu sudah dekat, bahkan sangat dekat. Kita tertipu dengan kemewahan dunia, gemerlap kebahagiaan yang menyertai kehidupan yang dijalani sehingga menganggap kehidupan ini akan abadi. Sampai tiba-tiba Izrail sudah berdiri tepat di hadapan, barulah kita sadar, bahwa kematian memang selalu datang lebih cepat dari yang kita sangka.
Sama juga dengan kambing dan sapi itu, saat malaikat menjemput ruh ini untuk berhadapan dengan Allah, untuk memertanggungjawabkan segala amanah selama di dunia, kita benar-benar tak siap dan merasa memiliki banyak kekurangan. Kurang amal shaleh, kurang sedekah, kurang zakat, kurang ibadah, kurang taat, kurang takwa, kurang peduli, kurang segalanya.
Padahal sebelumnya kita sempat mengira bekal yang disiapkan sudah cukup. Ternyata tidak, sama sekali tidak cukup. Sebab kita lupa, bahwa perjalanan akhirat jauh lebih panjang, lebih lama dari kehidupan dunia yang sangat singkat. Ibarat perjalanan jauh, maka kehidupan dunia ini hanyalah sebuah persinggahan sesaat. Kita benar-benar lupa, dan mengira kehidupan dunia akan kekal. Padahal keabadian itu ada di kehidupan selanjutnya, bukan di dunia.
Meski tak seperti kambing dan sapi yang dilabeli nomor urut kematian, tetapi yakinlah, sesungguhnya kita pun sudah diberi nomor antrian itu. Hanya saja kita tak benar-benar tahu berada di antrian berapa kita, apakah masih jauh atau justru sangat dekat. Hal inilah yang membuat kita terus terlena dan menyangka giliran kita masih jauh. Boleh jadi, besok atau malam inilah waktunya.
Dan bila benar-benar waktu itu tiba, terbelalak lah mata ini karena tak mengira secepat itu Izrail tiba. Maka tak sedikit dari kita yang meregang nyawa dengan berteriak kesakitan, perih yang tiada pernah dirasakan oleh manusia manapun semasa hidup. Lebih perih lagi saat membayangkan ganjaran apa yang bakal kita terima di akhirat kelak, sesuai dengan apa-apa yang pernah kita kerjakan di dunia.
Kalau seekor kambing mengembik kesakitan saat meregang nyawa, maka kita pun berteriak, mata terbelalak, lidah terjulur menahan sakitnya melepas ruh. Yakinlah, masih ada yang lebih perih yang bakal kita terima di hadapan Allah sesudah sakit meregang nyawa. Itu semua tergantung apa-apa yang kita perbuat selama di dunia. Maka tersenyumlah wahai jiwa yang semasa hidupnya dipenuhi amal shaleh, dihiasi ketaatan serta menjadikan dirinya matahari bagi kehidupan orang lain. Astaghfirullaah… (gaw)
Rizki dalam Pernikahan
Published
Sunday, November 09, 2008
by Pumz. 0
comments
Kalo liat foto pas lagi bertiga ini yang diambil pas gathering kantor di Mekarsari beberapa waktu yang lalu jadi inget sebuah artikel (entah siapa yg bikin dan dapat dari mana). Yang jelas disitu intinya tertulis "Kalo rejeki dalam sebuah pernikahan akan datang sendirinya".
Dulu aku termasuk orang yang kontra dengan artikel tersebut ( meskipun sampai sekarang juga tidak terlalu PRO).Yah memang benar rejeki akan datang sendirinya, tetapi dua hal yang tidak boleh dilupakan yaitu usaha dan do'a. Makanya kadang kalo pas merenung pada kondisi saat ini jadi inget dulu pas mau memutuskan merit. Maju mundur.. iya... engga.. merit... engga. Semua pikiran jadi satu. Sampai akhirnya aku mendapat sebuah contoh kehidupan yang dari dulu ga aku sadari.Bokap yang seorang PNS dengan sisa pendapatan yang boleh dikatakan kurang, bisa menghidupi ke-4 adik-adikku dan Mama. Padahal 2 dari ke-4 adikku menginjakkan kaki di bangku kuliah'an.
Meski tiap bulan aku membantu meringankan beban bokap, tapi menurutku bokap masih-lah penyokong utama dana sekolah dan kuliah adik-adikku. Saat aku tanya ke bokap darimana bisa hidup selama ini dengan gaji yang segitu dan beban biaya hidup yang jauh lebih besar. Bokap cuman jawab "Yo enek wae Le rejeki iku. Ga iro Gusti Allah maringi urip trus njarne mati kaliren. Sing ojok lali usaha lan do'a ne. Ben lancar kabehane" [artinya kurang lebih seperti ini : "Ya ada ajalah Nak rejeki itu. Tidak mungkin Allah SWT memberikan kehidupan trus membiarkan qt mati kelaparan. Yang jelas jangan lupa berusaha dan berdoa supaya lancar semuanya"] .
Saat itu aku masih setengah percaya dan setengah ngga. Bukannya tidak percaya akan kenikmatan yang Allah SWT berikan. Tetapi ketidak percayaan pada diri sendiri, apakah aku mampu menghidupi anak istri kelak. Maklum dengan usia masih belum genap 25, kuliah masih kurang beberapa SKS dan status kerja yang masih kontrak outsource. Sungguh ibarat judi dalam kehidupan. Tetapi dengan niatan mencari barokah kehidupan, syukur alhamdulillah sejauh ini apa yang aku jalani dan yang yang aku dapat jauh dari kurang alias cukup (Alhamdulillah). Mulai dari pekerjaan yang mulai menampakkan titik terang (sudah tidak outsource lg), tempat tinggal yang perlahan tapi pasti dapat ugrade perlahan-lahan (punya rumah sendiri meskipun tidak besar), dan tentunya si kecil yang hari demi hari bertambah pinter dan bisa menjadi mainan bernyawa.
So... buat yang lagi bimbang pengen memutuskan merit atau tetap membujang, mungkin sedikit cerita diatas bisa jadi pertimbangan. Yang jelas intinya selama kita berusaha dan berdo'a rizki akan datang sendirinya tanpa kita sadari. Semoga.. Amien
Pembokat Mudik.. Juragan-pun Jongos
Published
Monday, October 13, 2008
by Pumz. 2
comments
Lebaran maren ga kemana-mana alias ga ada acara mudik. Bangun tidur nyuci popok, jemur popok, gendong Biyu, guyon ma Biyu, dll. Acara sebagian besar dihabiskan di dalam kontrak'an. Maklum pembokat lagi minta cuti mudik selama 10 harian. Jadi mao ga mao kudu cuti dari kantor 10 hari juga buat gantiin pembokat (tapi minus masak, soalnya takut yg punya dapur perasaan.. hihihihi).
Hari pertama cuti kaget bukan maen. Karna Biyu batuk-batuk kayak wong tuwek terus muntah-muntah. Tercatat sehari sampek muntah 4 kali. Klo ga salah pas itu hari Minggu ato H-3 sebelum lebaran. Sempet telp Ayah ma Mama di Jember buat minta saran kalo bayi muntah-muntah, secara adikq yang kecil baru 4 thn. Jadi Ayah / mama pasti masih ingat trik jika bayi muntah. Dan benar saja trik Ayah ma mama cukup jitu. Beliau berkata demikian di telepon...."Le yen bayi muntah-muntah gowoen ke dokter" (kurang lebih seperti ini artinya "Nak kalo bayi muntah-muntah bawa aja ke dokter"). Mendengar saran itu tentu saja diri ini jadi menggerutu sopan (maklum sama ortu). Dimana -mana emang kalo sakit harus ke dokter. Serasa jadi orang tolol sesaat waktu itu. Jadi percum tak bergun telp ke kampung.
Keesokan harinya ato di hari ke dua cuti, kita sekeluarga langsung bergegas ke dokter anak. Di RS bu dokter sedikit menjelaskan jika batuk disertai muntah-muntah pada anak balita itu wajar dan gpp. Karena itu biasanya usaha si kecil untuk mengeluarkan dahak di tenggorok'an. Kemudian bu dokter juga memberikan obat batuk bayi yang hanya dan hanya jika diberikan apabila si kecil batuk. Akhirnya hari itu kita pulang ke rumah dengan perasaan plong.
Sesampai di rumah ternyata ada sedikit masalah. Karena bekas mpup Biyu yang maren belum di jamah sama sekali. Karuan saja sebagai ortu gw bingung. Karena terus terang gw dan istri adalah type orang yang ga tega'an melihat dirty. Setelah bersi tegang dengan istri siapa yang mengeksekusi bekas-bekas mpup akhirnya sebagai orang yang paling dewasa dan berwibawa dalam rumah tangga, gw mengalah guna bersih-bersih bekas mpup Biyu. Pertama pegang kenyal,bau' (ternyata punya bayi juga bau. hihihi.. huekss) dan tentu saja lengket di mana-mana maklum dirty-nya uda 24 jam ga di jamah.
Satu menit,dua menit akhirnya ga terasa ber menit-menit bergelut ama yang lengket-lengket tadi. Dan akhirnya selesai juga tugas membersihkan bekas mpup si Biyu. Sejenak sempat ngaca di spion motor (maklum tempat jemur pakaian dekat motor) kalau raut muka gw merah maruun menahan gelisah sedari tadi. Dan untung selama proses tadi gw tidak latah ( alias ikutan ber-dirty ria. Hehehehehe)
Hari ketiga,ke-empat, ke lima sampai ke sepuluh cuti nyaris tidak ada special incident. Semua berjalan lancar dan alhamdulillah tanpa halangan yang sangat berarti.
Sedikit saran buat para ortu-ortu yang baru punya momongan. Dalam menghadapi si kecil biasakan SIAGA. Mending melakukan preventive terhadap penyakit daripada melihat si kecil sakit. Terlebih lagi di hari-hari yang sekiranya dokter anak libur / ndak praktek. (biar ndak tambah bingung... hihihihi)
Nasehat Ibu' --Part.1--
Published
Wednesday, July 30, 2008
by Pumz. 0
comments
Malam ini pas lagi jaga shift iseng2 cari2 dokumen / peninggalan cerita2 Almrh my Mom sepanjang hidup beliau. Salah satu yang membuat aku tertarik mengenai sekumpulan "Nasehat2 Beliau". Entah kapan tepatnya nasehat itu terucap yang jelas ada beberapa nasehat yang mungkin jika dikonversi (ceileee konversi kayak kompor aja) pada masa saat ini sepertinya pas banged... nged... nged....
* Jangan Pernah Berkata Najis Tralala Tema ini adalah salah satu nasehat Ibu' yang selalu aku ingat hampir setiap saat (diingat doang tp banyak ga dipraktek'in. Hihihihi). Yah ini mengenai ucapan kita atau tata krama ucapan atau bahasa familiar-nya sopan santun bertutur kata kepada orang lain.
Kadang kita khilaf tanpa rasa bersalah memanggil orang lain dengan sebuah istilah/sebutan yang mungkin jika diartikan artinya abstrak atau justru sangat tidak enak di dengar. Sbagai contoh kita memanggil seseorang dengan sebutan "Hey moncrot" atau "Hey telek petek" atau mungkin "Hey petek nelek", dll. Mungkin bagi penemu julukan memanggil orang lain seperti itu no problem (ya iyalah... masa ya ya ya). Tapi bagaimana perasaan orang yang kita panggil (EGP. heheheh j/k).
Selain itu tata krama berucap khususon kaum hawa sangatlah lekat dan terlihat sekali penilaiannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh cewek seksi nan ayu memanggil orang lain seperti "Hey Cuk" atau "Hey Gathel" sangat tidak relevan. Belum lagi jika ada wanita berjilbab yang tampak anggun nan GEMULAI (GEndut MUUooolek dan lungLAI) yang berkata2 kasar / umpatan kepada orang lain. Seperti "Dasar Bego" , "Dasar Guooblok","Dasar Kemprus" dan dasar2 lainnya. Sungguh sesuatu yang sangat tidak pantes diucapkan kaum hawa khususnya bagi mereka2 yang terlihat anggun dan terpelajar tetapi masih berpikiran pasaran.
Jadi ingat saat SMK dulu, suatu hari saat aku pulang kampung dari Malang ke Jember satu baris tempat duduknya dengan seorang embuk2 (bhs Indonesianya "Ibu2") yang sekilas tampak seperti orang berada dan berwawasan intelektual. Begitu giliran hp-nya berbunyi mulailah terlihat jatidiri ibu2 tadi. Mulai dari nada bicaranya yang kenceng (sekenceng saat aku ngeden karna bedegelen [bedegelen is can't plung² in the morning at 2ilet] ) sampe marah² kepada lawan bicaranya di telp sampai tidak henti-hentinya berkata-kata yang kasar dan umpatan² ala kadarnya yang dilontarkan.
Bagaimanapun tutur kata memang menjadi penilaian atau cerminan diri kita sendiri. Semakin tutur kata kita bagus semakin baguslah penilaian orang kepada kita. Dan semakin norak tutur kata kita semakin noraklah anggapan orang lain kepada kita (ahhh norak lu..).
* Wanita Haruslah Perkasa Pada Tempatnya Nasehat ini sebetulnya hanya cuplikan wejangan Almrh Ibu' kepada adikku (kebetulan adikku cewek). Kalo ga salah my Mom pernah berkata kepada adik seperti ini "Jika besar jadilah orang yang pandai,mandiri dan sangat kuat dalam menghadapi hidup. Tetapi sepandai-pandainya, semandiri-mandiri dan sekuat-kuatnya menghadapi hidup tetaplah ingat yang namanya kodrat, unggah-ungguh dan agama".
Nasehat tersebut sebetulnya bukan tanpa alesan dan bukan tanpa contoh yang di ucapkan ibu kepada adik. Sebagai bukti ayah yang notaben-nya jauh lebih rendah dari sisi pendidikan, pendapatan bahkan relasi kerja sangatlah enjoy berumah tangga dengan almrh ibu'. Nyaris sepanjang 18 tahun kami hidup bersama tidak pernah ada bersitegang dalam rumah tangga. Dan jika aku bisa tarik kesimpulan itu semua berkat Ibu' yang selalu pandai menempatkan sisi KEPERKASAANNYA sesuai tempatnya.
Dan nasehat ini ternyata bisa aku temukan lagi kebenarannya saat aku duduk di bangku SMK di Malang. Sebuah keluarga kecil dengan 2 orang putri dimana sang suami hanyalah penyiar radio swasta di Malang yang hanya lulusan SMU tetapi dapat hidup rukun dengan keluarganya dan serba berkecukupan. Padahal jika aku boleh nilai kehidupan keluarga ini bisa dibilang kalangan menengah (boleh dikatakan cukup).
Sampai suatu hari sang istri menyuruh aku untuk ambilkan duit di ATMnya karena si suami sedang sakit dan butuh duit untuk berobat. Sesampai di ATM aku jadi kaget kenapa keluarga yang sesederhana ini bisa mempunyai tabungan nyaris ratusan juta (bukannya pengen ikut campur urusan rumah tangga orang lho.. Tp please deh positif thinking dulu ye..).
Setelah beberapa hari berselang setelah kejadian itu si istri bercerita bahwa isi ATM itu adalah tabungannya.Dan mewanti-wanti aku untuk jangan sekali-kali membocorkan jumlahnya, terutama kepada bapak (si suami RED). Karena itu akan membuat dia minder, dan menganggap dirinya menjadi seorang laki² yang tidak berarti bagi keluarga.
Hmmm sungguh seorang istri yang pintar,cerdas tetapi tidak melupakan kodrat, unggah-ungguh dan agama.
(sampai sini bingung mo nulis apalagi.. maklum mata tinggal 4 watt jadi ceritanya sampai sini aja ye... Uda jam 4 pagi, mo tidur malam dulu. Tar² di sambung lagi. Maaf bagi yang uda bela-belain baca dan terbawa ama tulisan ini. Endingnya ndak enak banget yak? Hihihihihi. Thx atas pengertiannya)
Biyu de Action [Step - 3]
Published
Friday, June 20, 2008
by Pumz. 1
comments
Hari ini dd Biyu kalo tidak ada halangan akan tiba di ibu kota Jakarta. Semua keperluan sudah di siapkan. Dari tempat tidur sampe keperluan buat sehari-hari sudah ready. Pokok begitu dateng kari "mak nyus pemirsa". Uda ga sabar nungguin nih. So sambil nunggu-nunggu lagi-lagi MMS dd Biyu dikumpulin jadilah album yg ke-3 ini. Simaakkk deehhh (bukan kasih daahhh)
Biyu de Action [Step - 2]
Published
Thursday, June 19, 2008
by Pumz. 0
comments
Sambil menunggu laga Portugal vs Jerman, iseng-iseng upload foto dd Biyu episode ke 2. Yah maklum jadi seorang Ayah ternyata benar-benar ndak bisa lepas dengan istilah "maruk". Apalagi kalo ini menjadi pengalaman pertama. Ughhhh asyiknya ga bisa di tahan wes pokoknya. Tapi sayang sejak lahir 7 Mei 2008 sampai sekarang pertemuan gw ma dd Biyu pasca kelahiran doang. Sejak itu Jakarta - Bondowoso menjadi pemisah.
Semoga tgl 21 Juni 2008 tidak ada halangan dan rintangan berarti. Jadi Ayah ma dd Biyu bisa dipertemukan kembali. Lha terus Bunda nya ? Qiqiqiqi....
Yah cinta sih iya ma Bunda. Sayang sih masih ma Bunda. Peduli juga banget ma Bunda. Tapi kalo ma dd Biyu yah maap-maap aja ya Bunda. Kayaknya Bunda nya harus ngalah dulu deh dapetin hati Ayah. Hihihihihihi